Pada Desember 2002, ketika masih anak-anak berusia 12 tahun, Jawad ditangkap karena dituduh melemparkan granat ke sebuah mobil jip yang mengangkut pasukan khusus AS di Kabul. Insiden itu melukai dua tentara AS dan seorang penerjemah.
Jawad kemudian dibawa ke pangkalan militer di utara Kabul. Selanjutnya, ia digiring ke tahanan militer AS di Teluk Guantanamo. Dia mendekam di sana sampai akhirnya dilepaskan beberapa hari lalu. Hakim pengadilan AS memerintahkan agar Jawad dibebaskan karena bukti-bukti menunjukkan bahwa ia dipaksa mengaku.
Sebagai tahanan paling muda dan kontroversial di Guantanamo, Jawad akhirnya menjadi manusia bebas. Ia diterbangkan ke Kabul, Senin (24/8), dan berkumpul lagi dengan keluarga dan teman-temannya.
Namun, setelah tujuh tahun di penjara—enam tahun di antaranya di Guantanamo—dia menghadapi perjuangan panjang untuk memulihkan masa anak-anak dan remaja yang terenggut. Kini, ia harus membangun masa depan di sebuah negara yang masih dilanda perang dengan Afganistan.
"Ini adalah salah satu momen membahagiakan dalam hidupku, kembali ke Afganistan setelah semuanya terjadi," kata Jawad kepada The Times. "Saya tidak melakukan apa pun, mereka mengambil semuanya dari saya. Saya sebelumnya hanya bisa berharap suatu hari menjadi orang bebas dan pulang ke Afganistan bersama ibu saya."
Hari kemenangan
Ketika Jawad akhirnya berkumpul dengan sang ibu, si ibu awalnya tidak percaya bahwa pemuda di depannya adalah putranya. Penampilan Jawad sangat berubah. Si ibu bahkan sempat pingsan. "Setelah memeriksa tanda bekas luka di belakang kepalanya, dia (ibu Jawad) lalu memeluknya erat-erat," kata Sher Khan Jalalkhil, teman dekat ayah Jawad.
Jawad bukan tahanan Afganistan pertama yang dibebaskan dari Guantanamo. Namun, dia diyakini sebagai tahanan termuda. Meskipun, Pentagon berdalih scan tulang Jawad menunjukkan bahwa dia berusia 18 tahun saat dikirim ke Guantanamo pada 2003.
Pemebebasan Jawad menjadi hari kemenangan bagi para penggiat HAM dan dirayakan di Afganistan. Presiden Afganistan Hamid Karzai bahkan berjanji memberi Jawad sebuah rumah saat bertemu pemuda itu, Senin malam. Menteri Pertahanan Abdul Rakhim Wardak juga siap menyekolahkan Jawad ke luar negeri.
Ketika Jawad ditangkap, dia tinggal bersama ibunya di Kabul. Ayahnya sudah terbunuh dalam pertempuran melawan Uni Soviet pada 1980. "Kami mencarinya (Jawad) selama sembilan bulan," kata Jalalkhil. "Kami tidak tahu apakah dia terbunuh, diculik, atau hilang. Ibunya seperti orang gila." Akhirnya, seorang anggota Komite Palang Merah Internasional mendatangi rumah mereka dan menunjukkan dokumen yang membuktikan bahwa Jawad berada di Guantanamo.
Penyiksaan
Setelah pulang, Jawad menungkapkan bahwa orang-orang yang menangkapnya menyiksa para tahanan Guantanamo. Mereka dilarang makan dan tidur. Para penyidik itu juga melecehkan Islam dan Al Quran. Jawad pernah disuruh berjalan jongkok dengan tangan di kepala. Dia dipaksa makan dengan posisi kepala menengadah ke belakang untuk meraih makanan di piring.
Eric Montalzo, pengacara Jawad, mengatakan bahwa kliennya diperlakukan layaknya orang dewasa. "Dia dikurung selama tujuh tahun. Jadi, ini sangat sulit baginya," katanya. Navi, Pillay dari Komisi Tinggi HAM PBB mengatakan bahwa Jawad seharusnya mendapat kompensasi, dan pelaku penyiksaan diadili.




0 komentar:
Poskan Komentar
Terima kasih sudah mau komentar. Semoga komentarnya menjadi berkah backlink karena Adik Blogger sudah Do Follow. Jangan lupa mampir ke Blognya Adi juga. :)