ENDE, KOMPAS.com — Menjelang kegiatan Sail Indonesia 2009 di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang dijadwalkan pada 5 September pengawasan wilayah diperketat. Hal itu dilakukan terutama sebagai antisipasi pascapengeboman di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta, Juli lalu.
"Pada prinsipnya kami tetap siaga, sebab terorisme itu bisa dilakukan kapan saja, dan di mana saja. Apalagi menjelang kegiatan Sail Indonesia yang pesertanya ratusan orang dari luar negeri. Ini rawan, sebab informasi dari media sasaran terorisme itu orang Amerika Serikat, dan secara umum bule. Padahal, bule-bule nanti yang datang ke Ende kan bukan saja orang Amerika," kata Bupati Ende Don Bosco M Wangge, Rabu (12/8) di Ende.
Menurut Don, para camat hingga kepala desa, ataupun lurah diminta lebih ketat memantau pendatang, terutama menyangkut identitas mereka, dari mana, dan tujuan apa datang ke Ende.
Secara terpisah Wakil Kepala Polres Ende Komisaris Arly Jembar Jumhana mengatakan, pihak Polres Ende saat ini memang meningkatkan kewaspadaan serta pengamanan.
Status siaga satu sejak pemilu presiden lalu sampai sekarang juga belum dicabut oleh pihak Polda NTT. Dan sejauh ini pun dari pengamatan wilayah belum ada indikasi aksi teroris.
Namun, untuk pengawasan bukan saja menjadi tanggung jawab kepolisian, melainkan juga elemen masyarakat seperti ketua RT dan RW. "Kami juga mengimbau segenap masyarakat pun melakukan pengawasan, terutama pada pendatang 1 x 24 jam wajib lapor ke ketua RT setempat," kata Arly.
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)




2 komentar:
Assalam...
Sebenarnya kita luruskan dulu arti terorisme disini bhwa yang kita hadapi rupanya teror HANYA kepada pihak Amerika dan sekutunya atas balasan kekejaman meraka di Irak, Afganistan dan Palestina.
Kami dari rakyat yang independen dan obyektif sudah bisa menilai seolah-olah Indonesia di jadikan boneka Amerika untuk menumpas Umat Islam dengan mengatas namakan teroris.
Awal mulanya adalah ketika Keposisian RI terpisah dari ABRI ketika pemerintahan tahun 1999 saat itulah secara tidak sadar Amerika telah menyusup masuk ke tubuh Indonesia. sedangkan kita tahu dari dulu terorisme ini ditangani oleh TNI. Toh setelah Polisi lepas dari ABRI kemudian ada "perintah" dari Amerika untuk membentuk pasukan anti teroris yang sekarang bernama Densus 88 Antiteros dan mereka sendiri yang membiayai dari senjata,latihan dsb.
Sejak saat itu TNI merasa dianak tirikan dan ditugaskan untuk mengatur masalah yang HANYA mengancam kedaulatan bangsa dari luar saja.
Tapi kita lihat sendiri kinerja Polisi dalam kurun waktu s.d sekarang malah tambah buruk. Setelah sekian lama tidak terdengar kasus bom lagi selama hampir 5 tahun ternyata bertepatan dengan berakhirnya Pemilu Presiden ada lagi kasus bom sedemikian hingga Presiden meradang dan seakan-akan menyalahkan kepolisian dan mengancam akan mengganti Kapolri saat ini. Hingga akhirnya Polisi membuat sandiwara termasuk untuk mengalihkan perhatian adanya ancaman kisruh pasca Pemilu presiden yaitu dengan mengkambinghitamkan kelompok muslim garis keras dengan ikonnya Nurdin M. Top. Terdapat beberapa kejanggalan pada saat peristiwa penangkapan terorisme di temanggung antara lain :
1. Lokasi dipilih didaerah terpencil kebanyakan orang desa berpendidikan rendah dengan pengetahuan politik yang miskin supaya menumbuhkan opini terorisme itu oleh umat Islam
2. Tersiar kabar terdapat empat teroris di dalam rumah yang dikepung tapi hanya satu orang saja.
3. Juga terdapat sandra nenek dan anak-anak tapi tidak ada sama sekali.
4. Pengepungan berlangsung selama mungkin seolah-olah Polisi bingung menentukan langkah sandiwara agar berjalan dengan cantik.
5. Adanya pengakuan dari orang yang dikepung bahwa dirinya adalah Nurdin M. Top. Untuk kasus ini biasanya dilakukan di medan tempur oleh TNI tetapi dengan memakai kata sandi misal Intelejen Polisi sudah tahu sandi anak buah Nurdin kalo ditanya "Uswatun" maka bila dia nurdin akan jawab "hasanah", bila dia jibril jawab "barokah" dsb karena tiap anggota teroris profesional sudah sedemikian canggih bahasa komunikasinya. Tetapi di lapangan disebutkan Polisi bertanya" Sopo jenengmu" trus dijawab " "Aku Teguh Widodo (baca :Nurdin M Top)" pastinya membuat kita tertawa dalam artian bukannya lucu tetapi tertawa menertawai.
6. Terlihat di televisi Anggota Densus 88 seolah santai dan berlagak tegang yang bila dilihat bukanlah SOP penumpasan teroris tapi hanya dagelan semata. Padahal segala peralatan canggih dikerahkan, bom-bom dan hujan peluru menunjukkan Densus 88 pamer kekuatan.
7. Ketidak transparannya Polisi sehingga wartawan tidak bisa meliput dengan detail termasuk tindakan mengecoh saat tiga ambulans didatangkan dan hanya satu ambulan yang pakai.
Korban ternyata tidak menggunakan rompi bom dan tidak bersenjata sama sekali.
8. Hasil test DNA juga kurang transparan dan yang mengejutkan hasilnya bahwa korban bukanlah Nurdin M. Top
9. Setelah kejadiannya demikian barulah Kapolri buka mata bahwa untuk aksi terorisme harus melibatkan banyak pihak. Akhirnya dengan "malu" Polisipun minta bantuan TNI yang sebenarnya TNI lah yang harus menangani terorisme ini.
bersambung...
kelihatan luh teroris..
udah jelas2 tuh orang teroris..
gag usah memfitnah deh nyari nyari kesalahan ke orang lain(amerika)
ngomong aja lu ngiri
dasar muslim SYIAH!!
berpeganglah pada ahlusunnahwaljamaahh...
dasar munafik!!
betul kata quran,bahwa banyak muslim seperti syiah yang selalu munafik,mengatasnamakn agama,,
karena bnyak orang seperti kalian itu..!
ISLAM dicap sebagai TERORIS!!
luarnya aja sok SUCI!
tapi kalian sama sekali sifat dan perangainya TIDAK SAMA seperti nabi MUHAMMAD SAW.
Ya ALLAH semoga pikiran dan perbuatanmu dapat dibukakan oleh ALLAH.AMIN
Poskan Komentar
Terima kasih sudah mau komentar. Semoga komentarnya menjadi berkah backlink karena Adik Blogger sudah Do Follow. Jangan lupa mampir ke Blognya Adi juga. :)